ReviewReviewReviewReviewReviewBy The River Piedra I Sat Down and WeptMay 6, '07 9:54 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Paulo Coelho
(Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menages)

Paulo Coelho bicara tentang cinta. Ia sedang jatuh cinta? Mungkin. Yang pasti ia menulis banyak hal indah yang menunjukkan betapa ia ahli dalam merumuskan sesuatu, termasuk cinta, yang selalu menjadi topik favoritnya selain masalah spiritual dan Bunda Perawan.

Novel ini menceritakan sepasang kekasih yang saling mencintai tapi dibatasi oleh keadaan, idealisme, gengsi, ketertutupan, dan dunia yang berbeda. Bersama, mereka melewatkan masa-masa untuk mempertemukan mimpi mereka. Tawa, tangis, bahagia, derita, momen-momen spiritual, romansa… mereka alami dalam perjalanan itu. Dan di akhir cerita… di tepi Sungai Piedra… mereka menemukan apa yang selama ini mereka cari.

Dalam novel ini, Paulo Coelho menuliskan kalimat-kalimat cinta terasa begitu syahdu dan mendalam, aku bisa ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh di dalamnya. Ataukah itu karena cinta memang sesuatu yang universal? Yang sensasinya dirasakan segala jenis manusia? Mungkin.

Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.

See? What a beautiful quote!

Cinta, pada awalnya, kelihatan demikian indah dan bercahaya. Tidak ada gelap yang terlihat. Kita tergiur, mendekat, dan terjun ke sana. Namun, begitu kita telah masuk, kita terjerat dan terjebak di dalamnya. Kita bisa dibawa terbang ke langit ke tujuh… kita juga bisa terhempas kebas di jurang yang curam.

Tuhan itu sama meskipun Ia memiliki ribuan nama; tergantung kita memilihkan sebuah nama untuk diri-Nya.

Kupikir hanya orang-orang dengan ilmu yang tinggi, hati yang luas, dan pengalaman hidup yang sarat lah yang bisa merumuskan kalimat semacam itu. Sebab, memang Tuhan itu esa, bukan?

Dalam kehidupan nyata, cinta harus memiliki kemungkinan. Bahkan kalaupun tidak langsung berbalas, cinta hanya dapat bertahan jika ada harapan kau akan memenangkan hati orang yang kaucintai.
Selebihnya hanya fantasi.


Ya… dan aku tercekat tiap kali membacanya. Sebab meski berusaha mengingkari (dengan mengatakan aku tak punya harapan dengan dia), jauh di dalam hatiku, masih ada secuil harapan. Hanya secuil kecil saja, tapi aku memang melihat ada kemungkinan dia yang kucintai akan kumenangkan hatinya.

Dulu kusangka hanya orang lain yang memiliki keberanian untuk mencintai. Namun sekarang aku tahu, aku juga sanggup mencintai. Meskipun mencintai berarti meninggalkan, sendirian, kepedihan, cinta sangat layak, berapa pun risiko yang harus dibayar.

Dan aku tersenyum membacanya. Sudah lama aku memikirkan tentang “jangan takut jatuh cinta”, lalu tiba-tiba hal itu dipaparkan dengan demikian indahnya oleh Paulo Coelho. Kalimat itu membuka lebar-lebar mataku; aku tidak perlu takut mencintai. Mencintai memang memerlukan keberanian. Keberanian untuk merasakan berbagai emosi yang seringkali menggerogoti hati kita.

PS. Sejak aku membaca The Alchemist (Sang Alkemis), tepat di hari ulang tahunku tahun lalu, aku langsung jatuh cinta pada Paulo Coelho. Aku lalu mengoleksi semua novelnya, tentu saja hanya yang sudah diterjemahkan. Semuanya, menurutku, adalah karya yang luar biasa. Dan… Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menages adalah favoritku.


Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.