 | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Mengomentari film Laskar Pelangi menjadi sedikit beban buat saya. Novelnya yang begitu dicintai, hingga produser dan sutradaranya yang dikenal selalu menghasilkan film-film bermutu, membuat saya perlu berpikir dua kali untuk menulis komentar tentang filmnya.
Film ini bagus, menurut saya terutama akting pemain-pemainnya yang prima. Saya melihat naturalitas dan penjiwaan yang pas dan tidak berlebihan. Saya juga suka dengan pengambilan gambarnya yang menampakkan sudut-sudut dramatis yang mendukung interpretasi kisah ini. Selain hal-hal teknis itu saya menyukai cara penyampaian pesan-pesan yang lebih berkesan mengingatkan, bukan menggurui.
Menerjemahkan novel ke dalam sebuah karya film tidaklah mudah. Lebih-lebih novel bergaya roman yang menceritakan kisah perjalanan hidup seperti Laskar Pelangi ini. Makanya saya sempat merasa bosan di tengah menonton film ini karena film ini tidak bulat, tidak mencari klimaks. Jadi boleh dikata pengemasannya bagus, tapi isinya kurang.
Tidak "menyalahkan" novelnya juga, karena memang seperti itulah novel, karya tempat penulis dinilai dari kepiawaiannya bermain kata-kata. Setting, perasaan, dan dialog dituliskan (bukan dilihat, dirasakan, atau diucapkan). Sehingga sensasi yang muncul pada masing-masing pembaca bisa tidak sama.
Secara subyektif, saya menyukai Laskar Pelangi karena film ini hadir dengan gagah berani di tengah gempuran film remaja, komedi, dan horor. Film ini juga menampilkan setting yang Indonesia banget (baik lokasi, bahasa, hingga warna kehidupannya). Film ini bisa membuat saya menangis dan tertawa dengan cara yang sederhana.
Kalau kamu orang Indonesia, kamu harus menonton film ini.
Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Great Debaters bercerita tentang kisah tim debat kampus African-American yang berusaha menapakkan kaki di dunia kulit putih (Anglo-Saxon). Film ini bersetting tahun 1935 di Texas yang sangat keras terhadap orang-orang berkulit hitam. Sering sekali terjadi kesewenang-wenangan orang kulit putih terhadap orang Afro-Amerika. Tak jarang terjadi pembunuhan tanpa sebab terhadap mereka (bukan karena mereka pencuri atau pembunuh, tapi hanya karena mereka Negro).
Henry Lowe, Hamilton Burgess, James Farmer, Jr., Samantha Booke adalah tim debat andalan Wiley College yang tak terkalahkan di seantero Texas. Satu persatu kemenangan mereka petik dengan tempaan keras dari Tolson yang selalu menegaskan besarnya kekuatan kata-kata.
Denzel Washington, berperan sebagai Melvin Tolson, adalah guru pembimbing yang keras, idealis, tapi sekaligus sangat dihormati murid-muridnya. Di balik perannya sebagai pembimbing tim debat, ia juga secara gerilya menghimpun kekuatan untuk mendirikan perkumpulan buruh hingga oleh ia diburu Sherif karena dianggap radikal bahkan komunis.
Denzel mengirimkan banyak surat ke kampus-kampus ternama untuk menceritakan kiprah tim debatnya dan mengajukan tantangan bertanding. Film ini mencapai klimaks ketika datang respon dari Harvard untuk menghadapi tim debat mereka.
Banyak wawasan baru yang bisa kita ambil di film ini. Baik itu mengenai sejarah dunia (dan Amerika) hingga wawasan moral tentang rasisme. Secara halus disampaikan juga hubungan mesra bapak dan anak, guru dan murid, suami dan istri, serta kekasih dan teman.
Pantas sekali film ini memenangkan beberapa penghargaan (bukan Oscar, tentu saja). Salah satunya adalah Best Picture dalam African American Film Critics.
Film ini diproduseri oleh Oprah Winfrey dan disutradarai oleh Denzel Washington.
Oya, seperti biasa, saya suka sekali mengutip kalimat-kalimat luar biasa dari film yang saya tonton. Ini beberapa favorit saya: "We do what we have to do, so we can do what we want to do." "Unjust law is not law at all." "The time for justice, the time for freedom, the time for equality is always right now."
     | Juno | Jun 22, '08 10:02 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Salah satu film drama keluarga favoritku nih. Mungkin juga film ini termasuk deretan film drama keluarga terbaik. Skenarionya sangat cerdas, realistis, lucu, sekaligus mengharukan tanpa berkesan cengeng. No wonder Jennifer Garner doesn't mind to play one of the supporting role. Bercerita tentang remaja 16 tahun (Juno MacGuff) yang hamil oleh sahabatnya sendiri (Paulie Bleeker). Juno diceritakan sebagai cewek yang nyentrik. Ia suka film horor, suka musik rock (yang saya sendiri nggak familiar dengan nama-namanya), jago main gitar, sangat cuek kesehariannya, dan tidak mau terlalu ambil pusing dengan apa kata orang. Cowok yang menghamilinya, yaitu sahabatnya sendiri, justru terkesan lugu dan tidak tegas. Mereka saling menyayangi, meski tidak sebagai sepasang kekasih. Lucunya, semua orang setuju kehamilan Juno sama sekali bukan gara-gara ia “menjadi korban” Bleeker, tapi justru Juno lah yang pasti berinisiatif. Juno sangat tenang menghadapi kehamilannya. Ia menemukan cara menyelesaikan masalah itu: dengan menyerahkan bayinya nanti diadopsi pasangan muda dan kaya yang sudah lama menginginkan anak (Vanessa dan Mark Loring). Vanessa inilah karakter yang dimainkan Jennifer Garner. Kisah pasangan Loring ini pun menarik. Mereka dua orang yang sangat berbeda karakternya. Mark cenderung bebas dan berjiwa seniman, sedangkan Vanessa sangat teratur dan kaku. Kalau saya tulis jalan ceritanya di sini tentu nggak seru lagi. Jadi saya hanya akan memberi komentar film ini sangat bagus, layak ditonton, dan layak dikoleksi. Karakter-karakternya manusiawi; kuat tapi tidak berlebihan. Film ini menjadikan hal-hal yang tidak biasa menjadi wajar. Hamil saat masih SMA, ibu tiri, cowok lugu (yang biasanya membosankan menjadi sangat menarik), romantika pasangan muda yang nggak romantis, hingga sahabat dan orangtua yang suportif. Menonton film ini seperti sedang menyaksikan kisah nyata dengan komposisi pas, tidak didramatisir. Ada beberapa kalimat menarik juga seperti: Rollo: You better pay for that pee-stick when you’re done with it. Don’t think it’s yours just because you marked it with your urine! Juno: I think I’m in love with you.
Paulie: You mean as friends?
Juno: No… I mean for real. ‘Cause you’re like, the coolest person I’ve ever met, and you don’t even have to try, you know…
Paulie: I try really hard, actually. Mac MacGuff: In my opinion, the best thing you can do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with. Dan yang tak kalah penting: soundtrack-nya TOP abis! So, I recommend you to watch this movie and enjoy the soundtrack!   | Category: | Music | | Genre: | R&B | | Artist: | Rihanna |
Lagu ini termasuk salah satu lagu patah hati favoritku selain I Will Survive (Cake), dan Irreplaceable (Beyonce Knowles). This is a sweet and strong broke-up song. Rihanna made it great! Dia bernyanyi seperti bicara. Atau dia bicara tapi bermelodi. Suka sekali pada jenis penyanyi semacam itu. Seperti kata Trie Utami: saat bernyanyi, berceritalah. That’s the point of singing! To tell story in a melody. Sayangnya sampai detik komentar ini ter-upload, aku belum tahu siapa penulis lirik lagu ini (is it man or woman). Menurutku liriknya sangat feminin dan bisa membuat siapapun yang sedang patah hati dengan kisah yang sama akan merasa lebih baik (not me, though). Don't tell me you're sorry cuz you're not... Baby when I know you're only sorry you got caught
Cerita lama tentang cowok brengsek yang ketahuan sedang 'bersenang-senang' dengan yang lain. So real! :D And the award for the best liar goes to you... For making me believe... That you could be... Faithful to me... Let's hear your speech
Liriknya itu… keren banget ya? Jadi teringat lirik lagu Dear Lie-nya TLC juga I Learn From the Best-nya Whitney Houston. Cewek memang jagonya bicara sarkartis! You're so ugly when you cry
Ya! Please don’t cry after you're cheating! It’s extremely disgusting! How bout a round of applause?... Standing ovation...
Are they cynical expression to show how well she (or we?) face the tragedy (hehehe, it’s too much to call it tragedy, isn’t it?)
Sesudah mendengar dan ikut menyanyikan lagu ini hati tentu bisa menjadi lebih baik (again, not that my heart is broken), lebih-lebih kalau sesudahnya diimbuhi dengan lagu I Will Survive. Oh yeah, you'll have such a healthy heart-broken night! Some say: don’t listen to a sad song when you’re sad. It’s going to cut your heart deeper. But, some other say: listen to some sad songs when you’re blue. It’s going to make you’re stronger since you feel that you’re not the only one being so blue.
  | Category: | Music | | Genre: | Pop | | Artist: | Dewa |
hadapi dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi hadapi dengan tenang jiwa semua kan baik-baik saja
bila ketetapan Tuhan sudah ditetapkan, tetaplah sudah tak ada yang bisa merubah dan takkan bisa berubah relakanlah saja ini bahwa semua yang terbaik terbaik untuk kita semua menyerahlah untuk menang Mendengarkan lagi lagu ini jadi bikin saya kangen sama Dhani dan karya-karyanya yang semacam ini. Yang seperti apa? Yang langsung kena ke hati baik dari segi musik maupun liriknya.
Saya kangen saat-saat di mana saya jatuh cinta pada karyanya hingga saya pikir orang yang bisa menciptakan lagu seindah itu pastilah orang yang hebat. Ah ya, saya masih ingat lagu-lagu seperti Hitam Putih, Terbaik-Terbaik, Restoe Boemi, Mahameru yang menyiratkan kepercayaan diri khas Dhani. Saya juga teringat lagu Kirana, Hidup Ini Indah, Airmata, yang menyentuh sisi spiritual dengan kuatnya.
Hadapi Dengan Senyuman termasuk salah satu favorit saya sejak pertama saya dengar lagu ini. Sekarang saya sedang suka menjadikan lagu ini sebagai theme song hari-hari saya. Lagu ini menenangkan hati saya, memberi saya keyakinan bahwa setiap orang pasti pernah atau tengah menghadapi masalah, kemalangan, kesulitan.
Lagu ini seolah "meninabobokan" saya. Mendengarkannya membuat saya merasa ada tangan tak nampak yang mengelus rambut saya, menyisipkan mantra ke dalam jiwa saya bahwa semua akan baik-baik saja. Kadang saya jadi menangis (meski Dhani meminta saya untuk tersenyum), kadang saya tersenyum (meski tak jarang senyum itu pun disertai tangis).
Ah... saya sungguh kangen pada karya Dhani yang seperti ini.
  | Category: | Music | | Genre: | Alternative Rock | | Artist: | The Rock feat Ahmad Dhani |
Sebagai baladewa dan mantan penggemar Dhani, aku merasa perlu menulis review album The Rock "Master Mister Ahmad Dhani I". Judul album yang Dhani banget tentu saja. Tapi terserah lah dia mau ngasih judul seperti apa, dia mau menganggap diri sebagai master sehebat apa.
Yang jelas album ini masuk kriteria bagus, layak dikoleksi, menyenangkan untuk didengarkan setiap saat; baik itu pagi hari untuk memompa energi sampai malam hari sebagai pengantar tidur.
Lagu-lagu seperti Munajat Cinta, Kamu Kamulah Surgaku, Aku Bukan Siapa-Siapa, bertema cinta yang terkesan picisan tapi sebetulnya sangat dalam maknanya. Entah itu curahan hati Dhani yang sesungguhnya atau cuma lirik yang dialami banyak orang juga. Aku sendiri paling suka Aku Bukan Siapa-Siapa, terutama dari segi musiknya.
Ada juga remake lagu Aku Cinta Kau dan Dia (dengan aransemen mirip versi Ahmad Band), Rahasia Perempuan (jadi lebih asyik dinyanyikan si empunya lagu), juga Kasidah Cinta dan Arjuna (yang aransemennya jadi swing! Yummy!!).
Dan... meski sedang sentimen sama Dhani, harus kuakui kalau orang satu itu emang jenius. Dia jago banget bikin lagu jadi kerasan mengiang-ngiang di telinga, bikin bibir jadi suka ngikutin lagunya, dan bikin aku suka joget sendiri di kamar.
Akhirnya, aku merokemendasikan album ini untuk didengarkan dan dibeli. No regret lah!
  | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Rhonda Byrne |
Buku ini menguak rahasia penting tentang bagaimana memandang hidup dengan lebih optimis dan ceria.
Rahasia besar itu sudah diwariskan selama berabad-abad dan dipahami oleh prang-orang besar dalam sejarah (penemu, ilmuwan, teolog, musisi, pemikir). Segala sesuatu berawal dari imajinasi, lalu didukung dengan kemampuan pikiran kita "menarik" hal-hal yang kita inginkan, maka di suatu masa di depan sana akan terwujud keinginan kita itu. So simple. Yes, it is.
Kondisi kita saat ini adalah hasil dari apa yang kita pikirkan di masa lalu. Hari ini, adalah sisa masa lalu. Karena itu, kita bisa menjadi siapapun atau apapun yang kita inginkan asal kita menginginkannya dengan cara yang benar. Memantapkan hati dan mengerahkan pikiran kita untuk mencapai itu.
The universe will serve us (jadi ingat konsep mestakung = semesta mendukung yang digagas Johanes Surya).
Aku sangat suka buku ini, kecuali satu kalimat yang menyebutkan bahwa manusia adalah Tuhan dalam bentuk fisik. Hanya sebaris kalimat, tapi di baliknya mengandung ide besar bahwa manusia memiliki kekuasaan mutlak menentukan hidupnya. Ya, manusia punya kekuasaan menentukan hidupnya, tapi ada Tuhan (Yang Maha Besar) yang bisa dengan mudah mengubah segala sesuatu yang sudah kita bangun atau yang kita impikan.
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Akting Deddy Mizwar benar-benar mengagumkan. Ia seperti tidak sedang berakting, melainkan menjelma. Mungkin yang begitulah yang dinamakan aktor sejati: melepaskan karakter diri dan menggantinya menjadi orang lain yang kadang sama sekali bukan dirinya.
Saya tidak sedang mengatakan kalau karakter Nagabonar sama sekali bukan Deddy Mizwar. Sebab saya percaya, dalam sebuah karya tercermin juga jiwa-jiwa penggagasnya. Saya yakin, banyak kritik sosial dalam film itu yang tercetus dari benak seorang Deddy Mizwar.
Nasionalisme dan keluarga menjadi dua isu penting dalam film ini. Hal itu tercermin dari karakter Nagabonar sebagai seorang anak yang sangat menghormati dan menyayangi ibunya yang memiliki cinta tak bersyarat (seperti ibu lainnya juga, saya rasa). Nagabonar juga seorang suami yang mencintai, memuja, dan tetap setia pada istrinya meski sang istri sudah bertahun-tahun meninggalkan dunia. Nagabonar juga seorang bapak yang mencintai satu-satunya anak yang ia besarkan dengan tangannya sendiri : Bon Naga.
Adegan paling menyentuh dalam film ini, menurut saya, adalah adegan-adegan saat Nagabonar dengan haru memberi hormat pada patung-patung dan nisan-nisan para pahlawan. Seperti mengingatkan diri betapa selama ini bangsa ini tidak lagi mengindahkan perjuangan perebutan kemerdekaan dulu. Ironis memang. Lebih-lebih saat Nagabonar memprotes patung Jenderal Sudirman yang memberi hormat entah pada apa atau siapa.
Saya tidak mengenal Nagabonar sebelumnya (meski saya pernah mendengar kepopuleran tokoh ini dari cerita orang), karenanya saya tidak bisa membandingkan perbedaan atau perubahan pada Nagabonar dengan Nagabonar Jadi 2.
Yang sedikit mengecewakan saya, tentu saja, sang pemeran utama digambarkan berada di strata ekonomi tinggi. Begitu tingginya hingga saya pikir mewakili sebagian kecil saja masyarakat Indonesia. Mungkin Deddy Mizwar sengaja menampilkan tokoh orang berada agar film ini tidak mengeksploitasi kemiskinan. Atau mungkin juga ia ingin menjajarkan dua kalangan masyarakat : kaya dan miskin. Tapi tetap saja itu agak mengganggu sebab dengan menampilkan kekayaan seolah ingin mempermudah menyelesaikan berbagai masalah.
Seperti kata Monita tentang alasan ia mencintai Bon Naga adalah karena ia tampan, pintar, kaya. Semuanya memang lebih mudah ketika seseorang punya tiga kriteria itu, bukan?
Mungkin benar kata Nagabonar : zaman sudah berubah. Sekarang adalah zaman emas untuk orang-orang yang tampan, pintar, dan kaya. (Untung Monita menambahi satu alasan : Bon Naga punya bapak yang lucu)   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Bourne rocks!
Sejak awal, Bourne Identity, aku udah jatuh cinta dengan Bourne. Ceritanya berjalan sangat cepat dan penuh. Aksinya keren. Karakter-karakter pemainnya sangat pas. Di Bourne Supremacy pun tidak ada penurunan kualitas. Aksi, cerita, dan deretan karakter masih keren.
Ternyata... surprisingly... bagian terakhir trilogi Bourne : Bourne Ultimatum betul-betul mengesankan! Great? Splendid? Magnificent? Kalau diberi kesempatan ngasih bintang kayak Roeper & Ebert aku sudah pasti ngasih lima bintang. Atau there tumbs up! Yap! Kupikir Bourne Ultimatum adalah film terbaik tahun ini (hingga Agustus ini tentu saja).
Sepanjang film jantung dibuat berdebar, hanya sedikit waktu yang disediakan untuk bernapas lega. Otak terus dipaksa menduga-duga apa yang bakal terjadi nanti. Hati dibuat penasaran tentang trik dan kecerdikan apa yang akan dilakukan Bourne. Juga bagaimana Bourne menghadapi para eksekutor.
Bourne menyelesaikan masalahnya dengan tuntas di film ketiga ini. Dia akhirnya ingat, dia berhasil membongkar top secret tentang proyek ilegal blackbrair, dia bisa menjebloskan orang-orang di balik proyek itu, dan dia tetap hidup.
Nggak ada romansa! Nggak ada cinta-cintaan! Dan itu justru menambah nilai plus film ini, sebab dengan begitu percaya diri si penulis cerita tidak menyisipkan "pemanis" drama kisah cinta.
Nah, aku memang nggak bagus dalam menulis resensi. Tapi toh ini memang bukan resensi. Ini murni komentar. So... Bourne Ultimatum absolutely high recommended to be watched! Enjoy!   | Category: | Music | | Genre: | Miscellaneous | | Artist: | James Blunt |
Album yang luar biasa. Aku ingin menuliskannya : wonderful.
James Blunt memadukan melodi dan lirik yang sangat pas dengan seleraku. Aku suka semua lagunya, tanpa terkecuali. Aku suka lirik yang ia tulis, aku suka musik yang ia gubah (beberapa lagu ia ciptakan bersama satu atau dua rekannya).
Aku tidak pandai mengindentifikasikan genre musik. Jadi akan lebih benar kalau kamu mendengar dan menamai sendiri jenis musik apa yang disuguhkan James Blunt ini.
Favoritku di album ini... well... cukup sulit. Sebab aku memang suka semua lagunya. Mulai dari High hingga No Bravery.
You're Beautiful jelas termasuk dalam unggulan sebab lagu inilah yang mengenalkanku pada James Blunt dan aku langsung jatuh cinta. Tears and Rain sangat bagus liriknya. Goodbye My Lover juga begitu dalam. Melodi So Long Jimmy sungguh menarik dan enak didengar. Cry juga bagus.
Jadi... setelah menimbang-nimbang... kupikir Tears and Rain, Cry, So Long Jimmy, dan High adalah terfavorit.
Sometimes it's hard to believe you remember me (High)
I have seen birth. I have seen death. Lived to see my lover's final breath. Do you see my guilt? Should I feel fright? Is the fire of hesitation burning bright? And if you want to talk about it once again, On you I depend. I'll cry on your shoulder. You're a friend. (Cry)
See? So sweet kan liriknya?
  | Category: | Books | | Genre: | Romance | | Author: | Paulo Coelho |
(Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menages)
Paulo Coelho bicara tentang cinta. Ia sedang jatuh cinta? Mungkin. Yang pasti ia menulis banyak hal indah yang menunjukkan betapa ia ahli dalam merumuskan sesuatu, termasuk cinta, yang selalu menjadi topik favoritnya selain masalah spiritual dan Bunda Perawan.
Novel ini menceritakan sepasang kekasih yang saling mencintai tapi dibatasi oleh keadaan, idealisme, gengsi, ketertutupan, dan dunia yang berbeda. Bersama, mereka melewatkan masa-masa untuk mempertemukan mimpi mereka. Tawa, tangis, bahagia, derita, momen-momen spiritual, romansa… mereka alami dalam perjalanan itu. Dan di akhir cerita… di tepi Sungai Piedra… mereka menemukan apa yang selama ini mereka cari.
Dalam novel ini, Paulo Coelho menuliskan kalimat-kalimat cinta terasa begitu syahdu dan mendalam, aku bisa ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh di dalamnya. Ataukah itu karena cinta memang sesuatu yang universal? Yang sensasinya dirasakan segala jenis manusia? Mungkin.
Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.
See? What a beautiful quote!
Cinta, pada awalnya, kelihatan demikian indah dan bercahaya. Tidak ada gelap yang terlihat. Kita tergiur, mendekat, dan terjun ke sana. Namun, begitu kita telah masuk, kita terjerat dan terjebak di dalamnya. Kita bisa dibawa terbang ke langit ke tujuh… kita juga bisa terhempas kebas di jurang yang curam.
Tuhan itu sama meskipun Ia memiliki ribuan nama; tergantung kita memilihkan sebuah nama untuk diri-Nya.
Kupikir hanya orang-orang dengan ilmu yang tinggi, hati yang luas, dan pengalaman hidup yang sarat lah yang bisa merumuskan kalimat semacam itu. Sebab, memang Tuhan itu esa, bukan?
Dalam kehidupan nyata, cinta harus memiliki kemungkinan. Bahkan kalaupun tidak langsung berbalas, cinta hanya dapat bertahan jika ada harapan kau akan memenangkan hati orang yang kaucintai. Selebihnya hanya fantasi.
Ya… dan aku tercekat tiap kali membacanya. Sebab meski berusaha mengingkari (dengan mengatakan aku tak punya harapan dengan dia), jauh di dalam hatiku, masih ada secuil harapan. Hanya secuil kecil saja, tapi aku memang melihat ada kemungkinan dia yang kucintai akan kumenangkan hatinya.
Dulu kusangka hanya orang lain yang memiliki keberanian untuk mencintai. Namun sekarang aku tahu, aku juga sanggup mencintai. Meskipun mencintai berarti meninggalkan, sendirian, kepedihan, cinta sangat layak, berapa pun risiko yang harus dibayar.
Dan aku tersenyum membacanya. Sudah lama aku memikirkan tentang “jangan takut jatuh cinta”, lalu tiba-tiba hal itu dipaparkan dengan demikian indahnya oleh Paulo Coelho. Kalimat itu membuka lebar-lebar mataku; aku tidak perlu takut mencintai. Mencintai memang memerlukan keberanian. Keberanian untuk merasakan berbagai emosi yang seringkali menggerogoti hati kita.
PS. Sejak aku membaca The Alchemist (Sang Alkemis), tepat di hari ulang tahunku tahun lalu, aku langsung jatuh cinta pada Paulo Coelho. Aku lalu mengoleksi semua novelnya, tentu saja hanya yang sudah diterjemahkan. Semuanya, menurutku, adalah karya yang luar biasa. Dan… Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menages adalah favoritku.
    | 5 cm | May 4, '07 2:24 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Donny Dhirgantoro |
Aku suka banget 5 cm.
Bahasanya mengalir dan asik diikuti. Temanya beda dan orisinil. Sampulnya keren (jujur, awalnya aku mutusin beli 5 cm emang gara-gara sampulnya! Still, people judge a book but its cover, yah?)
Aku suka cara Donny menceritakan ironi/tragedi dengan elegan. Tidak mendayu-dayu, namun tetap mengena. Tidak cengeng, tapi tetap menyentuh hati. Aku juga suka cara Donny ngajarin orang tanpa belagak menggurui. Aku suka karakter-karakter yang dia bangun. Kelima tokohnya sangat manusiawi. Aku suka dia tidak malas menceritakan karakter dengan detail dan tidak terbatas pada penampilan.
Aku nggak nyangka ada juga "orang muda" pengagum Sinatra, Beatles, Queen. Aku susah tuh ketemu orang dengan selera kayak gitu. Kupikir aku sendirian.
Ada beberapa hal yang kurang dari 5 cm, seperti ejaan dan tanda baca, tapi nggak penting lah buat diomongin because overall this novel is great. Mm... mungkin kecuali satu hal yang lumayan menggelitik. Aku ngerasa heran, dengan sederetan lagu yang dituliskan hampir lengkap lirik-liriknya, aku kok nggak menemukan lagu Mahameru di sana. Padahal settingnya pas banget. Donny malah menuliskan Mahadewi (jadi ada dua lagu Padi di sana). Alhasil aku bisa dengan mudah nyimpulin kalo dia Sobat Padi. Cukup kecewa, karena aku Baladewa :).   | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
(Tidak sedang ingin mengomentari filmnya, tapi mengomentari isinya)
Diambil dari pernyataan Deklarasi Kemerdekaan yang dicetuskan oleh Thomas Jafferson (1743 - 1826); Life, Liberty, and Pursuit Of Happiness, film ini diangkat dari sebuah buku autobiografi Christopher Gardner (berjudul sama) menceritakan sebuah kisah nyata seorang tunawisma yang pada akhirnya menjadi miliuner (pemilik dan CEO Christopher Gardner International Holdings, yang berkantr di New York, Chicago, dan San Fransisco).
Chris adalah seorang salesman sederhana yang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik untuknya dan anak lelakinya. Menyadari ia memiliki kemampuan lebih dalam bekerja dengan angka dan berhubungan baik dengan orang, Chris mendaftar menjadi pekerja magang di sebuah perusahaan pialang. Karena tidak dibayar selama menjadi pekerja magang, setiap akhir minggu ia melanjutkan pekerjaan awalnya: menjual alat pemindai tulang yang tidak mudah dijual.
Suatu hari, ketika alat pemindainya rusak saat ia mendemonstrasikan pada seorang dokter, dengan lapang dada Chris berterima kasih atas waktu yang diberikan dokter. Dia--yang persediaan uangnya saat itu semakin tipis--memilih bersikap profesional, bukannya mengiba pada sang dokter agar mau membantunya. Dengan menggunakan sisa-sisa uang yang ada, ia membeli peralatan untuk merenovasi alat pemindai itu. Di mana ia memperbaikinya? Fantastis! Di sebuah rumah penampungan yang tak berpenerangan bagus. Untungnya, dengan cahaya seadanya ia berhasil memperbaikinya.
Film ini sungguh menyentuh. Melihat bagaimana perjuangan seorang bapak mencarikan tempat tidur yang layak untuk anaknya dengan tetap kelihatan optimis sepanjang waktu. Ia juga seorang yang menjunjung tinggi komitmen. Ia pekerja keras, profesional, dan sabar.
Tuhan memang menyediakan "hadiah" bagi siapapun yang mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan. Dan... hadiah Tuhan tidak akan setengah-setengah.
Chris akhirnya mengerti mengapa Thomas Jafferson (yang seumur hidupnya menjadi budak belian) memasukkan frase "pursuit of happiness" dalam pernyataannya, bukannya "happiness" saja. Sebab ia mengerti, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk mengejar kebahagiaannya, bukannya sekadar mendapatkan kebahagiaan dengan cuma-cuma.
Kisah ini ditutup dengan sebuah kalimat manis: "Ini adalah salah satu bagian hidupku, meski hanya bagian kecil saja : kebahagiaan."

| |