Catcha!
Judul yang menarik, kukira. Jadi teringat pada headline tabloid gosip yang kadang tidak menggambarkan isi beritanya. Apapun, semoga judul yang terpilih itu cukup bisa mewakili isi tulisan ini.
"Jadi perempuan jangan sampai terlalu menunjukkan perasaan cinta pada lelaki. Lebih-lebih kalau lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama. Sebab sifat dasar lelaki adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari perempuan yang mencintai dia."
(pengakuan lelaki)
"Mendengarnya langsung tertusuk jantungku. O-oo... selama ini aku begitu royal menunjukkan perasaan cintaku pada lelaki. Lantas kemungkinan besar berarti selama ini aku sedang dimanfaatkan."
(pengakuan perempuan)
"Lebih aman untuk perempuan mendapatkan lelaki yang mencintai dia, daripada lelaki yang dia cintai."
(saran lelaki)
"Masak perempuan tidak boleh mendapatkan lelaki yang ia cintai?"
(protes perempuan)
Oke, cukup. Apa yang tertulis di atas adalah fakta. Bukan karangan, rekaan, atau imajinasi. Bukan kalimat yang kudengar sekali dua kali, tapi jelas berkali-kali. Kenyataan yang pahit memang, bagi perempuan. Dan kenyataan yang menggembirakan buat lelaki, sebab mereka mendapat "pemakluman" atas tindakan "tidak masuk akal" mereka.
"Jika lelaki mengatakan ia memikirkanmu, ia bohong. Yang ia pikirkan hanya seks. Sebab lelaki memikirkan seks setiap hari--itu sudah sifat dasar. Ia akan membuatmu menunggu telepon dari dia, tapi ia tidak akan menelepon. Lelaki menyesatkan."
(nasihat ayah pada anak perempuannya)
Dahsyat, kan? Seorang ayah yang notabene juga lelaki memberi nasihat yang secara langsung menyatakan betapa lelaki adalah makhluk yang oportunis dan manipulatif dan tidak bisa dipercaya.
Ini terbukti dengan banyaknya lelaki penggoda. Nggak tanggung-tanggung, lelaki yang sudah berumur, beranak, bahkan beruban, atau botak. Aduh, muak sekali rasanya. Orang-orang itu sudah memiliki istri yang mestinya mereka cintai dengan hati yang bersih. Tapi mereka memilih bersikap seperti remaja belasan tahun.
Orang-orang seperti itulah yang paling suka berkedok "sifat dasar lelaki". Sebuah pembenaran saja sebenarnya. Tidak tahukah mereka kalau sikap mereka itu sama sekali nggak menarik dan justru menjijikkan? Aku miris membayangkan kalau aku pun berkemungkinan akan berakhir dengan orang seperti itu.
Mestinya lelaki bisa mengobral cintanya untuk istri sendiri.
Aku sering memerhatikan blog-blog atau friendster. Hampir setiap aku melihat album foto lelaki beristri, tidak kutemukan ada gambar istri mereka di sana. Anehnya, mereka dengan kebanggaan memasang berderet foto anak mereka. Mengembel-embeli dengan berbagai pernyataan sayang pada foto-foto itu.
Sulitkah meng-upload potret perempuan yang sudah mereka pilih menjadi teman hidup mereka? Perempuan yang (pastinya... atau mestinya?) mereka cintai itu? Beratkah menuliskan kalimat pernyataan cinta pada perempuan yang sudah setia mendampingi dan melayani mereka?
Mendengar pertanyaan semacam itu, aku sangat yakin jawaban mereka akan berputar sekitar : tidak ingin memamerkan istri, atau biarlah istri menjadi "harta" mereka pribadi. Padahal pada detik yang sama mereka sedang mendemonstrasikan sifat dasar mereka yang lain lagi : menebar pesona pada perempuan lain dengan memerankan sosok ayah yang sangat mencintai anaknya. Mereka tahu perempuan-perempuan sangat menghargai (bahkan beberapa mengagumi) seorang ayah yang dekat dengan anaknya.
Fiuh... lelaki sungguh rapuh.
Perempuan berbeda. Suami adalah sosok yang ia hormati dan banggakan. Perempuan tidak pernah malu ataupun gengsi menunjukkan betapa hidup mereka jadi lebih berarti dan berwarna saat menemukan lelaki yang menjadi suami mereka. Dan surprise! di blog-blog dan friendster, semua perempuan menikah memasang foto suami mereka di album foto.
Dengan segala kesetiaan dan kepercayaan diri, perempuan menunjukkan bahwa hati mereka telah menjadi milik seorang lelaki, bahwa hidup mereka sudah didedikasikan untuk seorang lelaki.
Perempuan sungguh merupakan sosok yang kuat. Meski mungkin bagi sebagian perempuan, memiliki suami adalah bentuk prestasi sehingga perlu "dipamerkan". Tidak salah juga. Toh masyarakat memang menganggapnya prestasi saat perempuan bisa membuat lelaki memilih ia untuk menemani hidupnya.
Mencari pendamping
Dalam proses mencari pendamping pun, lelaki ternyata juga berbeda dengan perempuan. Lelaki selalu mencari perempuan yang cantik. Demi apa? Sederhana sekali. Demi kebanggaan bersanding dengan perempuan cantik. Jika orang yang menemaninya bukan perempuan yang menarik, ia akan kehilangan kepercayaan diri. Ia akan merasa tidak hebat.
Hanya segelintir lelaki yang bisa melihat utuh kualitas seorang perempuan.
Perempuan terkenal dengan materialistisnya. Lucunya, kebanyakan dari mereka marah dikatai matre, dan mulai mencari pembenaran bahwa kemapanan atau paling tidak kecukupan adalah kebutuhan. Mereka yang biasanya sentimentil dan lebih suka memberdayakan perasaan daripada akal, justru berkoar bahwa cinta saja tidak cukup. Pernikahan membutuhkan uang, materi.
Harus kukatakan aku merasakan nausea dengan dua kondisi itu. Terlalu idealis? Memang. Dan aku tahu idealisme tidak mendapatkan tempat yang lapang di dunia percintaan.
Selanjutnya muncul pertanyaan besar : benarkah demikian? Tidak tersediakah lelaki yang bisa dicintai dengan leluasa dan aman? Aku berharap jawabannya tidak dan tersedia. Aku berharap hatiku cukup optimis kalau lelaki seperti itu masih ada.
Hak perempuan
Seharusnya perempuan mempunyai hak (yang sama besar dengan lelaki) untuk bisa mengungkapkan cinta pada orang yang ia cintai. Tanpa dibilang nggak cool, nggak punya harga diri, bermain api, melakukan tindakan bunuh diri, atau mengorbankan diri menjadi "ikan asin" buat lelaki. Sebab perempuan juga punya hati yang punya kapasitas besar untuk mencintai. Saat pengungkapkan cinta itu dibatasi, dada terasa begitu sesak dan berat menanggung perasaaan yang mestinya indah dan dihargai.
Masyarakat telah begitu egois membuat aturan tentang perempuan jangan terlalu menunjukkan perasaannya. Masyarakat telah memanjakan para lelaki untuk bertindak semaunya. Membuat mereka membenarkan semua kelakuan "miring" mereka, hanya karena mereka dianugerahi sifat dasar seperti itu.
Lalu apa fungsinya pengendalian diri? Apa artinya membuat pilihan?
Masyarakat telah begitu sulit menerima pemikiran semacam ini. Ibarat sebuah sistem yang sudah mengakar dan susah diluruskan, posisi lelaki dan perempuan dibiarkan saja terus seperti itu. Nasihat-nasihat tentang berhati-hati pada lelaki terus digulirkan (bahkan oleh para lelaki sendiri, demi membangun justifikasi saat mereka melakukan kesalahan/kenakalan suatu hari nanti).
Aku mencintai, dan aku ingin menunjukkannya dengan leluasa. Kenapa tidak benar? Sulitkah keinginan ini dimengerti?