Ketika cinta nggak lagi sederhana... tahukah kamu rasanya? Ya, sesak. Hatimu dihantui cekat. Tak ada yang bisa kamu lakukan selain diam di peraduanmu dan merindu.
Ketika cinta nggak lagi sederhana... bukan soal aku mencinta dan kamu mencinta... melainkan tentang memendam rasa. Lalu, perlahan namun pasti, logika mendesakmu untuk mengubur rasa itu. Ia bilang demi melindungi hatimu dari kerusakan dan kehancuran. Aku bilang, itu tidak adil. Memangnya kamu tahu apa yang terbaik untukku? Tidak. Kamu hanya sedang bertindak yang terbaik untukmu. Ya, untukmu. Hanya untukmu. Sebab kamu membangun benteng defensif yang tinggi dan kokoh... untuk berlindung. Melindungi hatimu dari sakit. Kamu meninggalkan aku sakit sendiri.
Kamu memikirkan terlalu banyak. Kamu berpikir dan menimbang layakkah rasa itu bersemayam di hatimu. Kamu berpikir untuk merasa! Bukankah itu buruk? Saat kalbu mulai didikte logika... saat nurani dibelenggu norma... saat suara hati tak lagi didengarkan... kamu memilih hanya mendengar apa yang dikatakan otakmu. Kamu lebih percaya dengan segala kalkulasi dan analogi. Kamu takut pada sesuatu yang bahkan belum kelihatan. Kamu takut pada bayangan.
Ketika cinta nggak lagi sederhana... aku melara di sini, memikirkanmu, bertanya-tanya apakah kamu memikirkanku juga. Tentu saja tidak. Kamu sibuk menghapus segala kemungkinan yang ada.
Kamu lelah. Aku pun lelah. Kenapa cinta membuat kita lelah? Jangan-jangan ini bukan cinta. Mungkin segala rasa ini hanya akumulasi kekaguman dan ketertarikan. Meski lututku terasa lemas, meski tanganku bergetar hebat, meski jantungku berpacu cepat, meski senyum di bibirku senantiasa terpahat... tiap kali ada kamu. Jangan-jangan ini memang bukan cinta. Lalu apa? Mungkin semua ini cuma kegilaan.
Ketika cinta tak lagi sederhana... tak lagi tentang aku mencintamu dan kamu mencintaku... aku menyerah... aku tersungkur... memohon pada sang pemberi cinta untuk merenggut keindahan yang berbalut perih itu.
Sebab yang kuinginkan hanyalah... cinta yang sederhana.