Prespective

Blog EntryFall (in love)Nov 16, '09 6:18 PM
for everyone
Enjoy falling in love
 
It is unforeseeable
Like a flash of lightning
 
It doesn’t happen very often
Most of the time you don’t see it coming
 
You’ll be sparkly and shimmering
But oh, at some point you’ll finally be broken
 
Yes dear, sometimes it hurts
That’s why they call it falling
— We never plan to fall
 
Just enjoy the fall
Even if there is no one to catch your fall
 

Leeuwarden, 5 November 2009



Blog EntryIngin-inginNov 1, '09 7:32 AM
for everyone
Bingung mau kemana liburan natal nanti. Dua minggu waktu yang lumayan banget buat jalan-jalan!

Harus ke Roma, Paris, dan Berlin. Tapi juga kepingin bisa ke Spanyol, Switzerland, atau Praha. Bingung. Uang dan waktu terbatas, jadi nggak mungkin semuanya terjangkau. Duh, seandainya punya uang lebih banyak dan nggak bingung urusan transportasi dan akomodasi. Tinggal pilih mau naik apa, tinggal pilih mau nginep di mana...

Hehehe... lucu.

Sangat lucu dengan keluhan yang sempat terlintas di benakku itu. Sebab ketika aku memikirkan lagi dengan lebih jernih, sungguh keluhan semacam itu nyaris absurd buat "aku versi beberapa tahun lalu." Sebab waktu itu aku bahkan nggak punya pilihan-pilihan itu. 

Sebab aku yang dulu "cuma" ingin bisa mengunjungi Jepang, Malaysia, dan Holland. Lalu sekarang ketika ingin-ingin yang itu sudah tercapai, muncullah ingin-ingin baru.

Tidak ada kata cukup buat manusia, don't you think? Batas itu terus melentur, mengembung. Selama nafas masih terhembus, selama hayat masih dikandung badan, ingin, ingin, dan ingin akan terus menghiasi pikiran kita yang tidak mengenal batas.

Tapi aku tahu aku bukan satu-satunya. Ada banyak orang memasang ingin mereka begitu tinggi. Lihat saja Fujiko F. Fujio, si penulis Doraemon itu, tentu ia juga punya imajinasi besar tentang "ingin." Hingga ia menciptakan ide cemerlang semacam kantong ajaib, baling-baling bambu, mesin waktu, hingga pintu kemana saja.

Dan kamu tentu ingat lagu kebangsaannya...

Aku ingin begini
Aku ingin begitu
Ingin ini ingin itu banyak sekali...

Jadi... sekarang aku bermeditasi sejenak menenangkan ingin-ingin yang begitu dahsyat menyemarak pikiran. Menimbang-nimbang lagi antara "prioritas hidup" dengan prinsip oportunis alias "mumpung ada kesempatan." Meghitung-hitung cukupkah simpanan di bank dan mengingat kondisi diri yang pengangguran dan masih akan tinggal di negeri orang sampai sekitar sepuluh bulan ke depan.

Atau meredamnya, jika mungkin.

And I suddenly realized how easy of being single is.



Blog EntryBraveryOct 25, '09 10:51 AM
for everyone

Aku tidak akan lupa keinginanku, mimpi-mimpiku, kegilaan-kegilaanku.

Meski sedikit saja yang akhirnya berani kulakukan, tapi ternyata sekarang aku bisa mengenangnya dengan senyum (dan kadang tawa) serta penghargaan tinggi akan keberanianku.

 

1.    Stranger

Cerita selengkapnya dapat dibaca di attachment berjudul "Angga."


Intinya adalah aku nekat ngasih “surat cinta” ke seorang cowok yang aku nggak tahu namanya. Cuma gara-gara sering papasan sama dia dan orangnya (ehem) cakep banget. Kenapa frase “surat cinta” dikasih tanda kutip? Karena isinya memang bukan soal cinta, melainkan soal mengajak berteman.

 

Hasil surat itu: si cowok ngirim sms, memperkenalkan diri, menjawab semua pertanyaan yang kutulis di suratku. Lalu berlanjutkah? Yang bener aja! Ya jelas nggak lah!

 

2.    Walk out

Hengkang dari jurusan Manajemen Unair begitu saja. Tanpa pamit. Cuma 3 bulan kuliah, setelah itu bubar jalan. Langsung bolos selamanya. Waktu itu aku sengaja ikutan UMPTN gara-gara penasaran karena sebelumnya diterima di Statistika ITS lewat jalan PMDK. Sumpah, tanpa bermaksud sombong, soal UMPTN-nya nggak susah. Apalagi Matematika Dasar yang bisa dibilang piece of cake buat anak Statistika. Huehehe… astaghfirullahaladzim…

 

3.    Foreigner

Ini pas jalan-jalan ke Pulau Seribu, tepatnya Pulau Sepa. Lihat bule cakep yang menyendiri. Dengan bermodal nyali dan dorongan dua orang teman, akhirnya aku menghampiri bungalow si bule, numpang pipis. Aje gile. Di kamarnya ada koper rapi dan novel harry Potter. Nggak bisa ngobrol banyak, soalnya grogi abis. Sesudahnya langsung ngacir pergi.

 

Abis itu cerita ke dua temanku yang sedang main di pantai. Si A heran kok aku nggak kenalan dll… Aje gile!! Dasar teman! Akhirnya aku balik lagi ke bungalow. Ternyata si bule nggak ada. Dengan sisa-sisa keberanian, aku meninggalkan kartu nama di atas mejanya. Nggak pernah ada telepon atau email dari dia.

 

4.    Road Trip

I love roadtrip! Sudah puluhan kali melakukannya dan belum kapok juga. Yang berkesan, roadtrip di Bengkulu dengan menyewa sebuah ojek. Oleh Abang Ojek diajak keliling Bengkulu hingga ke pelosok, ke sebuah pantai sepi bernama Sungai Putih (kalau nggak salah). Kalau mengingatnya sekarang jadi merinding, membayangkan bagaimana kalau Abang Ojek berbuat “macam-macam” lalu mendorongku dari tebing pantai.

 

Roadtrip lainnya adalah ke Fujiyama, Jepang. Berteman dengan ibu-ibu kaya yang sedang mencari kesibukan ketika menemani suami berbisnis di Jepang. Persis dengan Castle Tour di Niuew Zailand, Denmark, beberapa hari lalu. Fiuh, lagakku udah kayak orang kaya aja. Ikutan trip ibu-ibu perlente yang nginapnya di JW Marriot Copenhagen.

 

Yang paling menyenangkan dari roadtrip adalah perjalanan panjang yang kita tidak tahu kapan sampai di tujuan, juga bertemu orang-orang baru dengan cerita hidup mereka yang berbeda. I will tell you more about them in my next article.

 

5.    Resign

Yap. Aku akhirnya mengirim surat resign-ku. Resign dari Pegawai Negeri Sipil. Lucu juga, aku baru bisa dengan lantang menyebut pekerjaanku setelah aku tidak akan bekerja lagi sebagai PNS. Itu sebuah pertanda yang jelas kalau inilah yang memang kuinginkan.

 

Cerita singkatnya: meski sudah cukup lama ingin keluar, aku akhirnya berani resign setelah dipicu permasalahan izin belajar. Aku melanggar terlalu banyak prosedur untuk bisa sekolah ke LN dari beasiswa yang kucari sendiri. Pilihan yang ada: melepas beasiswa dan tinggal selamanya di kantor yang sudah membuat pantatku gerah, atau mengambil beasiswa itu dan melepas pekerjaan. Pilihan yang menguras energi dan emosi selama berbulan-bulan, tapi syukurlah akhirnya terputuskan juga.

 

Nilai apa yang bisa diambil dari kisah-kisah itu?

Membuat keputusan dan mengambil tindakan berisiko tidak bisa dihindari. Jangan takut. Selama kita nggak melakukan dosa besar seperti menghilangkan nyawa manusia (kalau menghilangkan nyawa nyamuk nakal atau tikus jorok semoga bukan dosa besar), go for it!

Kita kadang berhenti dari bersikap ekstrim karena takut, malu, atau khawatir apa yang bakal dikatakan atau dipikirkan orang. Kita cenderung lebih suka bermain aman—bertindak dalam batas-batas normal, seperti yang dilakukan kebanyakan orang.

Well, just so you know, doing extraordinary stuff is really worthy. Even the very simple one, like: telling someone you love that you love him/her (even if he/she doesn’t), or getting on a traditional boat in the middle of a terrible storm. 

What’s great afterward is when you are able to retell the story with a deep understanding about yourself and your decisions.

 

Diselesaikan 25 Oktober 2009


Attachment: Angga.doc

Blog EntryX-genicOct 14, '09 11:45 AM
for everyone
Which one are you?

Beginilah kalau piikiran yang mestinya dibawa serius mikirin paper yang mendekati due date tapi sedang nggak ada ide cemerlang.


Gara-gara ketemu orang-orang yang punya kelebihan kelihatan menarik dengan syarat tertentu, aku (iseng-iseng) bikin list yang bisa jadi referensi buat mengkategorikan orang-orang tersebut. 

1. Photogenic

Tentu kalian paham betul dengan istilah satu ini. Yep. Orang-orang photogenic adalah orang-orang selalu kelihatan cakep dalam potret padahal kenyataannya nggak segitunya. Biasanya orang-orang kayak gini doyan banget difoto dan paham betul angle-angle mana yang bagus buat mengabadikan gambar mereka.

2. Fargenic

Meski istilahnya nggak populer, aku yakin kalian sering menjumpai yang kayak gini. Dari jauh kelihatan kayak artis, cakep. Eh, waktu akhirnya dilihat dari dekat ternyata nggak seindah yang diduga. Haha, kecewa deh... Saranku, jangan buru-buru menilai orang kalau baru lihat dari jauh... apalagi malem-malem. Soalnya waktu malem orang cenderung kelihatan lebih cakep dari penampakan di kala siang.

3. Glassesgenic

Clark Kent alias Superman bisa dipakai buat menjelaskan genic jenis ini. Kupikir dia lebih bagus pake kacamata ketimbang nggak. Atau Harry Potter! Atau cowok di kelas yang nggak perlu lah kusebutin namanya di sini soalnya toh kalian nggak kenal. Ada kalanya orang yang biasa pakai kacamata (minus tinggi pula) bakal kelihatan aneh waktu lepas kacamata. Biasanya di seputaran matanya ada bayangan hitam, atau bola matanya agak maju. Yah, kurang lebih kayak mataku lah... huhuhu...

4. Smilegenic

Mungkin kamu termasuk yang ini!
Banyak banget orang yang kelihatan jauh lebih menarik waktu sedang senyum, baik itu kelihatan giginya atau nggak. Kalau lagi diem biasanya dia sama sekali nggak menarik, eh begitu senyum langsung berubah drastis (180 atau 360 derajat ya? pokoknya berubah deh). Jangan ngebayangin George Clooney ya, soalnya mau dia senyum atau nyureng tetep cakep juga. Mm... aku coba pikir-pikir... kayaknya Monalisa contoh yang bagus. 

5. Cargenic

Untuk yang terakhir ini, maaf, aku lagi berusaha keras menggenapkan daftar ini jadi 5 x-genic (sejak kapan 5 itu genap??). Cargenic tentu saja orang-orang yang tampak lebih keren kalau lagi nyetir mobil. Apalagi kalau itu mobil kinclong dan itu mobilnya sendiri. Heheh, kumat deh materialistisnya. Tapi coba renungkan deh... kamu pasti pernah ketemu dengan orang sejenis ini. Ngaku!
(mmm... jadi inget sopir trem yang cakep buuaaanget).


Udah ah... entar kalo ada sumur di ladang mau ngelanjutin daftar ini aaah...


14 Oktober 2009

PS. Nemu darkgenic: orang yang cakep cuma kalo lagi gelap, huahahaha...


Blog EntryOrang sini itu...Oct 5, '09 8:08 AM
for everyone
1. Cuma pake tissue buat bersihin "itu" abis pipis atau BAB. Jorok nggak sih? Aku kasihan aja sama toilet paper-nya. Betapa berat pekerjaannya :D

2. Nggak pake membilas kalau cuci piring. Dibiarkan itu sabun berleleran, trus langsung dilap pake serbet.

3. Makan sandwich waktu lunch. Aduh biyuh! Kok bisa gitu cuma makan roti diisi selembar keju, selembar burger ayam/babi/sapi, sama kadang dengan salad. Mereka nggak tahu nikmatnya makan nasi padang, nasi manado, nasi soto, nasi rames...

4. Udah menghilang dari peredaran sekitar jam 6 sore, tapi keluar lagi buat nge-bar sekitar jam 10 malem.

5. Masih doyan makan es krim di tengah suhu 15 derajat. Cewek-cewek juga masih kuat pake legging tipis padahal suhu 10 derajat.

6. Memperhatikan detail dalam sarana publik mereka. Desain bus-nya keren, ergonomis. Desain kantor walikotanya dirancang environmentally friendly: dengan atap transparan yang bisa dibuka dan ditutup. jalur buat sepeda dan pedestrian lebar dan nyaman.

8. Nggak bisa makan pedas. Dikasih saus sambel dikit aja udah kepedesan.

9. Nggak punya konsep traktiran. Kalo ada yang ultah, terus makan bareng, itu artinya bayar sendiri-sendiri. Istilahnya Go Dutch. Dan kita mengadopsi itu dengan BDD.


Segini dulu...
Segera akan disambung lagi dengan cerita lainnya dari Holland.



Blog EntryHarapan: Hidup atau Hancur?Oct 3, '09 11:28 AM
for everyone
Banyak orang bijak (atau dianggap bijak) menuliskan banyak ajakan untuk membangun harapan. Sebab dengan harapan, kita punya sesuatu di depan untuk dicapai. Sesuatu di depan yang memberi alasan buat kita meneruskan hidup.

Sungguh, itu benar. Aku merasakannya. Ketika harapan sudah disusun, tubuh dan pikiran bersemangat bangun pagi demi mencapai mimpi-mimpi. Suasana hati menjadi riang karena hidup tak lagi menjemukan.

Teman, sebetulnya aku tidak ingin menuliskan tapi. Tapi... memang ada tapi di sini.

Harapan kadang berlaku sewenang-wenang. Membawa kita terbang dibuai bayangan-bayangan yang ternyata semu saja. Serupa fatamorgana. Mengerti kah kamu perasaan ini? Rasa dikhianati mimpi kita sendiri?

Seperti ketika aku berharap mendapat penghargaan sebagai pembaca puisi terbaik. Sebab salah satu juri memuji interpretasi dan penghayatan yang kutampilkan. Namun apa daya, pujian tak selalu tulus. Dan pujian tidak selalu bisa dikonversi ke dalam nominal, angka-angka sesuai kriteria. Aku yang menunggu namaku disebutkan, mesti menelan kecewa saat satu persatu pemenangnya naik panggung, meninggalkan aku di sudut gedung.

Seperti ketika aku bermimpi menjadi teman hidupnya, kupikir dia memang orangnya. Sebab dia bilang dia sayang aku, sebab dia bilang ingin menikah denganku. Lalu ketika aku sudah terbang tinggi dan hampir mencapai mimpi itu... aku dihempaskan dengan keras. Menembus awan-awan, jatuh, sakit. Kala itu kupikir, alangkah baiknya kalau aku tak perlu membangun harapan. Harapan yang ternyata kosong, bohong.

Jadi sekarang kamu mengerti, bukan? Bahwa harapan tidak selalu membuat kita hidup. Kadang harapan menciptakan ilusi yang menyesatkan kita dari kenyataan-kenyataan yang lebih masuk akal untuk terjadi. 


Leeuwarden, 3 Oktober 2009


Blog EntryLebaran Tahun IniSep 19, '09 4:30 AM
for everyone
lebaran tahun ini,
sendiri di negeri yang sejak lama ingin kukunjungi dan kutinggali. mestinya gembira tapi entah kenapa ada pedih juga. tidak bisa sungkem di pangkuan bapak dan ibu. tidak bisa memeluk kakak dan adik dan keponakan-keponakanku. tidak bisa bercanda dan berbagi cerita dengan sepupu-sepupu.

lebaran tahun ini,
tak ada riuh takbiran di masjid dekat rumah. tak ada bagi-bagi angpau pada tetangga-tetangga cilik yang jago memancing rezeki di hari fitri. dan sungguh sepi tak ada reuni bersama teman-teman lama yang kumiliki. sebab takdir membawaku berada di tengah orang-orang baru yang mungkin sama kesepiannya dengan aku.

lebaran tahun ini,
banyak sekali yang tidak ada. melepas kebiasaan puluhan tahun sama sekali tak mudah. harus kuat dan penuh semangat mengganti kebiasaan itu dengan cara baru yang sebetulnya nggak kalah seru.

ah lebaran tahun ini...
yang terpenting kuhaturkan permohonan maaf pada semua. atas semua pikiran, ucapan, dan perbuatan yang tidak menyenangkan. dan semoga kita bersama kembali ke kebersihan nurani.


Leeuwarden, menjelang lebaran


Blog EntryMy WaySep 18, '09 3:52 PM
for everyone
I do my may
and I see no way
It was a lie
I will prove someday

It is not the way
But it should be done anyway
Yet I keep telling myself
My way is the best way


17 September 2009


Blog EntryHis nameSep 14, '09 4:07 PM
for everyone

Today, I went through facebook’s search engine to look for my old friends. I typed name by name. I found many of them; send them invitation to be my “facebook friend.” It was amusing to read how their life changed. It was so fun to make conversation after years.

Inevitably, I suddenly typed his name.

Empty.

It hurt me to realize that of course he wouldn’t be there—not that he hates things like facebook or friendster or any world-wide-web network—but simply because he doesn’t exist. He is even not in this world anymore.

It hurt me to realize that he was so young when he is gone. He wouldn’t know how good I become.

Today, I really wish he was still here.

***

Dear you,

I miss you so badly.
I still remember clearly all the days we had.
I know I’ll never see you again.
I know... I can’t.



Blog EntryFirst DaysSep 5, '09 4:38 AM
for everyone

First days are not so easy. It is not that hard too. Food, weather, and transportation thing are the three main problems here.

Food is not cheap at all. It urges me to cook everyday (yes! everyday!). I’m pretty sure that besides the Master of Science, I will also obtain Master of Simple Meal, ha-ha.

The weather is so terrible, especially the wind. It is “only” 15 degree now, but the wind is killing me! And the rain too! It is rain now and then, we can’t predict. The wind also breaks umbrellas.

Transportation is the hardest, I guess. I have to spend 45 minutes from the house to the university. My feet went blue and black. Why don’t I take a bus? Well, it is not quite economical to ride a bus because I still have to walk 10 minutes from the house to the bus stop. Bicycle is still in a hunt. Bad weather makes me hesitate to buy one. They autumn and winter are coming about…

Thank God, the town is so lovely. This is exactly kind of town I like. It is a relatively small town with complete facilities, beautiful views, greenery parks, classic canals and boats, great stores, pretty neighborhood, and a decent house with Chinese-Indo restaurant right in front of it, supermarket and salon nearby.

And Alhamdulillah, I see hundreds of beautiful creatures here. God must have been in a very good mood when created them. Perfectly-shaped profiles, gorgeous eyes and hair, light skin, stunning postures, and a very attractive style.

I must say that they don’t really see “us”—people with different skin color. They’re like having their own lives.  Yeah, of course they do.  However, some people, especially people on the street or in public places, are really kind and friendly. They won’t mind to help. Some of them even start to make conversation, for instance, asking where we are from and what do we do here.

Ugh, what an interesting first-days. The next plan would be a pictures hunt. I have to wait for a perfect weather in one of the weekends.

 

Leeuwarden, 3 September 2009



Blog EntryHai SayangSep 1, '09 7:05 AM
for everyone

hai, sayang...
entah kenapa masih kusapa kau dengan sayang
padahal, sungguh, sayang bukan yang sebenarnya kurasakan

apa kabar, sayang?
tidak seperti biasanya, aku sedang bahagia
padahal, sungguh, aku tidak menyangka aku bisa lagi berbahagia

aduh, sayang...
sudahkah kukatakan padamu aku sudah tahu
masa lalu denganmu tak lain adalah ketololan semu


leeuwarden, 29 august 2009

 


Blog EntryAlmamaterJul 30, '09 10:51 PM
for everyone
Berbahagialah dia yang tak tahu sesuatu.Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam perbandingan.
(Pramoedya Ananta Toer)


Tinggal di Jakarta, bekerja di departemen yang didominasi orang-orang ITB dan UI, membuka mata saya kalau almamater memegang peranan penting. Untuk diakui, untuk promosi. Sedangkan asal lulusan lain, misalnya ITS seperti saya, mesti bekerja lebih keras untuk mendapat pengakuan serupa.

Begitu pengakuan ada di tangan, bukan berarti jalan mulus terbuka lebar. Ada anggapan—semacam paradigma tentang keluhuran lulusan universitas/institut yang saya sebutkan tadi—yang tidak bisa ditanggalkan di otak orang-orang. Ilustrasinya begini: bagi lulusan ITB (terutama jurusan Teknik Perminyakan yang termasyur di kantor saya), lulusan mereka lah yang terbaik. Tidak ada yang lain lagi, walau semua orang tahu generalisasi tidak pernah seratus persen benar.

Di Surabaya, lulusan ITS “merajai” banyak industri (termasuk PT PAL yang populer) sebagai lulusan yang diakui kualitasnya. Tapi begitu menjejakkan kaki di Jakarta, pengakuan diberikan pada lulusan almamater lain. Pengakuan harus diupayakan. Masih ada jenjang yang harus ditempuh, jenjang pembuktian lewat kerja keras.

Arogansi almamater seringkali membuat saya… mmm… muak mungkin istilah yang tepat. Seolah kerja keras selama empat tahun cuma angin lalu, hanya karena ada orang lain yang menerjunkan diri dalam nama besar almamater universitas/institut terkemuka.

Mari tidak melupakan kenyataan bahwa letak geografis adalah salah satu faktor penentu pemilihan tempat kuliah. Mayoritas orang tentu memilih lokasi yang dekat dengan kampung halaman, yang berarti terjangkau dalam waktu dan biaya yang rendah. Sebagian kecil lainnya, karena melihat peluang yang bagus di “tanah air” orang, memberanikan diri jauh dari keluarga demi gelar dan jaminan masa depan. Seperti beberapa teman saya yang memilih kuliah di ITB, juga teman dari Jayapura yang jauh-jauh datang ke Surabaya demi menimba ilmu. Yang kuliah ITB, sekarang melanjutkan mengambil master, Yang asal Jayapura, sekarang berkarir di Freeport. Masa depan cerah semakin jelas di depan.

Saya juga punya banyak kenalan, teramat banyak, yang bukan lulusan kampus terkemuka. Tapi teman-teman ini sungguh memperkaya pemahaman saya bahwa ternyata mereka baik-baik saja. Sebagian bekerja di tempat bagus, sebagian terjebak di tempat yang tidak diinginkan (well, common problem, isn’t it?), sebagian memilih menjadi pengusaha (atau lebih sering disebut wiraswasta, karena pengusaha identik dengan businessman besar dan kaya raya), sebagian tentu saja menjadi pengangguran.

Mungkin mereka tidak baik-baik saja. Mungkin saya hanya menipu pandangan saya dan menganggap semua baik-baik saja. Mungkin mereka juga melihat lingkungan sekitar dan tersiksa dalam perbandingan, sebab mereka tahu posisi mereka dan posisi orang-orang di sekitar mereka. Persis seperti yang telah dirumuskan Pramoedya Ananta Toer bertahun-tahun silam. Kebijaksanaan yang didapat dengan observasi dan perenungan, tentunya.

Lantas apakah lebih baik kita tidak tahu? Sehingga hidup lebih tenang, lepas dari kegelisahan? Hal itu tentu terpulang pada preferensi masing-masing individu. Saya percaya bahwa pengetahuan dan ketidaktahuan akan sesuatu kadang lebih baik dan kadang tidak. Tahu segalanya akan membuat kita gelisah. Namun tidak tahu bisa juga membuat kita seolah berada dalam ruangan diselimuti cahaya yang indah yang menyamarkan banyak cela, atau justru terjebak dalam gelap tanpa tahu ada keindahan yang belum ditemukan.

Jadi, kalau kamu hanya punya dua pilihan, lebih baik tahu atau tidak tahu?

 

Jakarta, 31 Juli 2009

Ketika saya tahu sesuatu yang membuat saya tidak tenang



Blog EntrySepatu SamaJul 19, '09 11:24 AM
for everyone
Saya terkesan ketika mendengar dua remaja berbincang di halte busway, mengeluhkan peraturan sekolah yang mengharuskan mereka mengenakan sepatu hitam bertali. Salah seorang remaja itu memandangi sepatunya yang tidak sepenuhnya hitam, dan tidak ada talinya.

Jauh. Sungguh masih panjang perjalanan mereka menuju keluhan hidup yang lebih rumit dan besar dari sekadar mengeluhkan peraturan yang menurut saya nggak signifikan. Dengan berdalih penyeragaman, persamaan, kesetaraan, peraturan itu dibuat. Niat yang bagus, tapi kurang esensi. Sirat kekecewaan bocah itu meremukkan hati saya. Ya, bisa saya bayangkan sebuah cerita di balik sepatunya.

Mungkin bapaknya terlanjur membelikan sepatu itu untuknya. Haruskah bapaknya membelikan sepasang sepatu lagi?
Mungkin itu sepatu lungsuran yang masih baik kondisinya sehingga ia nggak perlu beli sepatu baru. Haruskah bapaknya sekarang mesti membelikan sepatu sesuai peraturan?
Ya, mungkin... mau tidak mau ia mesti membeli sepatu baru yang hitam sempurna dan bertali. Sebab kalau tidak, ia harus akan selalu merasa tidak tenang ketika guru memeriksa seragamnya dari kepala hingga kaki.

Sudah saatnya penyeragaman semacam itu disingkirkan. Katanya kita bersemboyan bhinneka tunggal ika, kenapa untuk urusan sepatu saja nggak rela untuk tidak seragam? Omong kosong soal kesetaraan. Dengan peraturan itu, yang kaya tetap akan membeli sepatu hitam bertali yang mahal. Yang miskin tetap akan terpaksa membeli sepatu murahan yang biasanya nggak berumur lama. Dan jelas orang bisa melihat ketidaksetaraan lewat merek yang sangat mudah dikenali.

Kenapa kita diajar untuk menyeragamkan diri? Kenapa tidak dididik untuk menerima perbedaan dengan lapang dada? Bahwa ada yang lebih memilih sepatu bertali dan ada yang tidak, misalnya?



Blog EntrySurrenderJul 17, '09 1:42 AM
for everyone
You have dreams
kept in your free soul
you wish to achieve them
maybe someday
...
but sometimes
when everything has been done
and yet they seem so far
perhaps that's the sign
for you to let them go




Blog EntryVini Vidi ViciJul 16, '09 4:01 AM
for everyone
I see it then I state my wish in my heart
I work hard on it then I realize that it is not enough
I beseech the Creator to show me the bright way
And give me the strength
I wait a while
And a little more patience and time
Until eventually, I get what I’m yearning for



Blog EntryTidak Ahli MemilihJul 14, '09 12:28 AM
for everyone
Memilih bukan keahlian saya. Jika dihadapkan pada beberapa pilihan, saya seringkali diam terlalu lama, tidak melakukan apa-apa. Memikirkan, menimbang, membuat daftar pro-cons, meminta pendapat pada (terlalu) banyak orang, hingga akhirnya banyak waktu terbuang tanpa hasil memuaskan.

Kadang, ketika berada dalam pilihan sulit yang menentukan "masa depan", hati kecil saya tidak menginginkan ada pilihan demi tidak kebingungan dan dilanda gelisah berkepanjangan. Namun bagian hati lain yang lebih besar sering menjerit bahwa serumit dan seburuk apapun situasinya, mempunyai pilihan tetap lebih baik.

Kadang, ketika berada dalam pilihan yang menyesakkan di mana tidak ada yang menyediakan kesempurnaan, saya ingin tidur saja. Lalu keesokan harinya bangun dengan pilihan sudah ditetapkan entah oleh siapa, lalu saya tinggal menjalaninya. Namun ego saya akan berteriak bahwa saya tidak diturunkan ke dunia hanya untuk pasrah pada keadaan.

Memilih sama sekali bukan keahlian saya. Tapi agaknya manusia tidak akan pernah bisa lepas dari kemewahan prerogatif itu, bukan?

Jakarta, 14 Juli 2009

Menghadapi pilihan, tentukanlah pilihan. Tidak melakukan apa-apa hanya membuat kita mematung di satu titik, tidak kemana-mana.

Blog EntrySBY PresidenkuJul 8, '09 10:18 PM
for everyone
Hasil Pemilu mengecewakan saya. Ternyata memang sulit mengubah paradigma orang Indonesia ini, kadang-kadang termasuk saya juga. Kita takut untuk membuat perubahan. Kita cenderung berdiam lama di titik nyaman (yang sebetulnya tidak nyaman), hanya karena takut kalau perubahan akan membawa ke arah yang tidak lebih baik.

Debat Calon Presiden ternyata hanya tontonan tanpa efek nyata. Saya bilang begitu karena menurut pandangan saya, calon presiden paling kuat selama debat adalah Jusuf Kalla (JK). Tidak terjebak pada "kesantunan" dan "kekakuan" khas pejabat, JK berani mengungkap kebenaran tanpa tedeng aling-aling. Hanya JK yang punya visi konkret ketika dua calon lainnya puas dengan rencana-rencana "besar" khas Pemerintah yang jarang bisa diwujudkan dalam tindakan nyata.

Terus terang saya termasuk yang yakin kalau SBY akan menang lagi. Tapi saya berharap suara untuk JK tidak sekecil itu (kurang dari 10%?). Paling tidak, lebih dari suara untuk Megawati lah. Namun kenyataannya, karakter orang Indonesia memang setia (really?). Setia pada SBY, setia pada Megawati. Meski mendapat banyak kekecewaan dalam Pemerintahan sekarang, kita tetap setia minta untuk dilanjutkan saja.

Anyway, SBY memang pembicara yang mengesankan. Saya akui itu. Walau terkenal terlalu lama dalam pengambilan keputusan, saya anggap saja itu sebagai proses deliberasi demi tercapainya keputusan terbaik. Tidak seperti dalam bisnis ketika keputusan sebaiknya diambil secepatnya, gaya SBY memang alon-alon asal kelakon. Sekarang saya hanya berharap SBY tidak lagi menjadikan Andi Malarangeng (AM) menjadi jubir kepresidenan sebab menurut saya, seorang jubir kepresidenan harus bisa mewakili suara Istana dengan cara yang elegan. Tidak seperti AM, dan kakaknya, dan Ruhut Sitompul, yang begitu arogan dan emosional dalam setiap kesempatan untuk bicara, yang lupa mereka mewakili sesuatu yang penting dan besar.

Jadi, ternyata akhirnya... SBY Presidenku... Hidup Indomie!


Blog EntryNukilan #30Jun 23, '09 11:23 PM
for everyone
Faith is not Desire
Faith is Will
Desires are things that need to be satisfied, whereas Will is a force
Will changes the space around us
But for that you also need Desire

(Paulo Coelho)


Blog EntryMenilai (dari) PonselJun 13, '09 1:15 AM
for everyone
Jangan menilai orang dari ponselnya. Kadang ada orang seperti saya, yang membawa ponsel ala kadarnya demi nggak kelihatan menyolok di tengah banyak orang, biar nggak dilirik tukang copet, biar nggak terlalu kehilangan kalau ponsel tiba-tiba lenyap dari jangkauan. Nggak sedikit orang berduit melakukan ini. Entah maksudnya humble, atau sekadar nyamar. Biasalah, di dunia fana ini banyak orang kaya yang ngaku miskin. Kayak saya, biasanya. Suka ngaku miskin, padahal seminggu ini bisa makan telur, ayam, dan sapi. Itu ayam dan sapinya udah dimasak ya... bukannya nyaplok ayam dan sapi hidup.

Jangan menilai orang dari ponselnya. Kadang ada orang seperti saya, yang kemana-mana bawa ponsel mutakhir berteknologi tinggi yang pake qwerty, ada kamera, bluetooth, dan HSDPAnya. Padahal itu ponsel dikasih orang yang sedang perlu "membuang" ponsel karena punya yang lebih baru dan lebih canggih. Kalau saya mesti beli sendiri mah sayang. Mending duitnya dipake beli telur, ayam, dan sapi. Lagi-lagi ayam dan sapi yang udah dimasak, soalnya kalo ayam dan (apalagi) sapi hidup itu mahal.

Jadi kalau tiba-tiba ada orang bawa ponsel jadul yang masih monophonic, jangan keburu menilai dia nggak berduit. Bisa jadi dia bukan orang nggak berduit. Lalu kalau ada orang dengan ponsel mentereng yang suaranya merdu kayak tape beneran, jangan keburu menilai dia berduit. Sebab bisa jadi itu fitnah.

Kalau begitu mending menilai orang dari apanya? Mm... perlu ya menilai orang?



Blog EntrySalah IngatJun 10, '09 12:09 AM
for everyone
Sialan! Aku salah ingat! Selama ini mikir kalau umurku 25 tahun, eh ternyata yang bener tahun ini udah 26! Aduh biyuh, rasanya kayak kecolongan setahun nih... Padahal banyak yang bisa dilakukan dalam 12 bulan, 52 minggu, 365 hari kan...

Hik hik... blueprint hidup mesti di-reschedule biar bisa mengakomodasi semua rencana dan impian nih. Huh... sebel ih...

Happy birthday for me, wish me a good memory henceforth.


© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help